Berita

By

Yuk Hadir di Acara Kopdar Akbar Genpro Depok 2016

Kopdar ini adalah acara rutin yang ada di Genpro. Dan Awal 2016 ini Genpro Depok mengadakan acara KOPDAR AKBAR. Kopdar kali ini akan di hadiri oleh banyak pengusaha depok. Untuk itu teman-teman pengusaha depok jangan sampai ketinggalan acara ini dan pastikan kehadirannya .. Read More

By

Habibie Afsyah – Kesuksesan Pebisnis Online yang Cacat

Mungkin kita kaget, mungkin kita tidak percaya bahwa orang cacat seperti Habibie Afsyah bisa sukses dalam berbisnis online, bahkan sejak umur 21 tahun dia sudah bisa membuat “yayasan Habibie Afsyah” untuk mengangkat kehidupan para penyandang cacat yang didanai dari keuntungan berbisnis online.

Habibie Afsyah – Cerita Sukses Pembisnis Online Yang Cacat
Akan tetapi dalam kehidupan ini, apa yang tidak mungkin, semua serba mungkin, asalkan ada kemauan dan kerja keras semua akan mungkin, seperti sedikit pesan Habibie Afsyah yang di tulis pada bukunya, “Akhirnya, melalui buku ini, aku ingin mengajak Anda semua untuk mensyukuri apa pun yg telah dianugrahkan oleh Tuhan, termasuk diri kita sendiri. Diri kita adalah anugrah yang sangat berharga. Bagaimanapun kondisi kita, kita selalu punya pilihan untuk melejitkan potensi diri kita atau menidurkannya.

kelemahan diri, termasuk keterbatasan fisik, tidak harus selalu berujung pada pelumpuhan diri. Pergulatan sudah pasti ada, tetapi kelemahan bisa diolah menjadi kekuatan. Kalau Saya yang punya keterbatasan seperti ini saja bisa, Anda pasti bisa! Kemandirian dan kesuksesan adalah kodrat Anda”. Kalimat ini hanyalah sedikit inspirasi dari seorang Habibie Afsyah dari sekian banyak inspirasi yang dapat kita ambil.

Habibie-Afsyah2

Kembali ke topic semula, “Habibie Afsyah – Cerita Sukses Pembisnis Online Yang Cacat” bagaimana cerita Habibie Afsyah sampai bisa sukses seperti sekarang??? Bagaimana Habibie Afsyah memulai berbisnis online???

Mungkin pada cerita ini, Habibie Afsyah sangatlah berterimakasih pada ibunya, bahkan semua kesuksesan ini dipersembahkan semua kepada ibunya,, karena ini semua berkat kesabaran ibu dan motivasi ibunya untuk bekerja keras merubah keadaan yang awalnya sebuah kelemahan menjadikan sekarang sebagai inspirasi.

Semenjak di fonis apabila Habibie Afsyah memiliki kelainan, oleh sang ibu, Habibie Afsyah sering dibawa kemana mana untuk berobat, bahkan sampai dibawa terapi khusus, dan semua itu dilakukan semata mata untuk menambatkan kesembuhan.

Akan tetapi selama terapi, Habibie Afsyah selalu menangis, bahkan pangkal pahanya sempat terlepas dari tulang mangkoknya. Dan hal itu membuat pertumbuhan kakinya menjadi tidak seimbang. Kaki Habibie menjadi panjang sebelah. Namun keadaan ini telah mengajarkan Habibie Afsyah untuk ikhlas menerima keadaan yg diberikan Tuhan. Hal itu bisa dia terima dengan apa adanya.

Akan tetapi tantangan berat sesungguhnya adalah tantangan hidup untuk mendapatkan perlakuan layak dari lingkungan sekitar, adanya diskriminatif ketika Habibie Afsyah akan mendaftar ke sekolah, dan lain sebagainya.

 

Habibie-Afsyah3

Akan tetapi Ibu Habibie lah yg berjuang keras ke sana-ke mari untuk mencari tempat pendidikan untuk Habibie Afsyah. Termasuk suatu ketika mendaftarkan Habibie pada Kursus Dasar Internet Marketing selama 2 hari dg pengajar dari Singapura, Mr. Fabian Lim, karena setelah lulus SMA, Habibie Afsyah tidak meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dengan biaya yang cukup mahal, sekitar Rp. 5 juta, oleh ibunya Habibie Afsyah di daftarkan ikut kursus dasar internet marketing, awalnya Habibie Afsyah mengaku tidak tau sama sekali alias buta tentang bisnis online, apalagi kursus tersebut dibawakan dengan bahasa inggris dan memakai translator menambah ketidak ngertian Habibie Afsyah dalam belajar dasar internet marketing mekipun Habibie Afsyah sering membuka internet, tapi hanya main game online.

Kursus awal belum tuntas dan belum bener paham, oleh sang ibu, Habibie Afsyah di daftarkan kembali untuk ikut kursus tingkat lanjut internet marketing, akan tetapi Habibie Afsyah sempet menolak karena biaya yang terlalu mahal alias Rp. 15 juta, sampai sampai sang ibu harus menjual mobil, ibunya terus memberikan semangat dan terus mendorong untuk berhasil, katanya “anggap saja kamu kuliah”, akunya Habibie Afsyah.

Pada kursus internet tingkat lanjut, Habibie Afsyah bertemu dengan Suwandi Chow, alih bahasa (Translator) kursus itu dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, setelah belajar selama 3 minggu, alih bahasa (Translator) kursus itu dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia berhasil mendapatkan penjualan pertama dari Amazon.com dg Produk Game PS3. Meski komisinya cuma $24, Habibie senangnya bukan kepalang karena baru kali ini bisa menghasilkan uang dari internet. Pada komisi pertama ini Habibie sebenarnya rugi karena biaya iklan lebih besar dari komisi. Namun Habibie terus berusaha sampai dia bisa mendapatkan komisi $124, $500, $1000, dan $2000 dari Amazon. Semua memerlukan proses belajar dan praktek secara konsisten

Uang hasil penghasilan dari Amazon dipakai Habibie untuk mengikuti kursus-kursus internet marketing lain, seperti Eprofitmatrix, Dokterpim, dan Indonesia Bootcamp. Dari kursus dan praktek internet marketing, Habibie sudah bisa menerbitkan Ebook Panduan Sukses dari Amazon dan membuat situs Listing Rumah (rumah101.com). Habibie juga didaulat menjadi Trainer di Eprofitmatrix bersama Gurunya, Suwandi Chow. Itulah pertama kali Habibie menjadi Trainer seminar meskipun usianya masih 20 tahun.

Sejak itu, Habibie sering diundang menjadi pembicara seminar internet marketing di kampus-kampus, hingga diliput koran, tabloid, dan majalah. Puncaknya Habibie diundang pada acara Kick Andy di Metro TV pada episode “Kasih Tiada Bertepi”.

Pesan yang bisa diambil, apapun keadaan kita, kita wajib bersyukur dengan terus berusaha, karena Tuhan akan melihat usaha kita, dan percayalah bahwasannya kita semua dikodratkan menjadi orang yang sukses, yang paling terpenting adalah seberapa besar usaha anda dalam mencapai kesuksesan tersebut.

By

Kisah Sukses Deny menjual Kek Pisang Villa dengan Omset Milyaran

Tahun 2006, ia berhenti dari pabrik dan menjadi wirausaha. Sepanjang tahun itu, ia mencoba berbagai jenis usaha. ”Prinsipnya, saya mencari usaha yang arus kasnya harian. Saya mencoba sembilan jenis usaha dari berjualan kue, membuka rumah makan, sampai menjadi EO (event organizer),” ujarnya.

Sampai tahun 2006, Denni Delyandri (32) menjadi karyawan dengan penghasilan maksimal Rp 2,5 juta per bulan. Kini, ayah tiga anak itu menjadi direktur perusahaan beromzet harian rata-rata Rp 100 juta.

Rezeki itu ia bagi dengan 220 karyawan di Batam, Kepulauan Riau, dan Pekanbaru, Riau. Suami Selvi Nurlia itu juga membagi rezeki itu dengan sedikitnya 80 UKM yang bermitra dengan perusahaannya, CV Media Kreasi Bangsa (MKB).

Lewat perusahaan itu, Denni menjual Kek Pisang Villa di Batam dan Viz Cake di Pekanbaru. CV MKB membuka delapan gerai di penjuru-penjuru Batam untuk memasarkan aneka produk Kek Pisang Villa.

Sementara di Pekanbaru ada empat gerai memasarkan Viz Cake. Selain Kek Pisang Villa dan Viz Cake, gerai-gerai itu juga menjual aneka produk UKM mitra CV MKB. ”Saya menyiapkan perusahaan baru untuk memudahkan ekspansi usaha,” ujar Denni.

pisang

Pencapaian Denni tidak dalam semalam. Ia giat berdagang aneka produk buatan sendiri sejak masih menjadi karyawan. Namun, hasilnya tidak maksimal. Denni juga harus berkonsentrasi dengan pekerjaan di pabrik. Selain itu, modalnya juga tidak banyak.

Februari 2007, ia dan istri mulai membuat bolu pisang dengan nama Banana Cake. Selvi mengurusi produksi dan Denni memasarkan. ”Kami mencoba berbagai resep makanan. Kebetulan istri hobi memasak. Setelah mencoba berbagai jenis, cake pisang ini yang paling diterima pasar,” ujarnya.

Mereka memulai usaha dari rumah sederhana di kawasan Batu Aji di pinggiran Batam. Alat produksi awalnya adalah mesin pengaduk kecil, kompor minyak tanah, dan oven kecil. ”Kami memulai dengan 2 kilogram pisang sehari. Rata-rata dibuat 40 kotak kue sehari karena kapasitas produksi terbatas,” tutur alumnus Universitas Andalas, Padang, itu.

Sebagian kue itu dipasarkan dalam bentuk potongan ke warung-warung. Sebagian lagi dipasarkan dalam bentuk utuh dari pintu ke pintu. ”Saya memasarkan ke tetangga, kenalan, atau kantor. Saya membuat brosur yang dibagikan di pabrik-pabrik,” ujarnya.

Hampir lima bulan Denni melakukan pola itu. Selama proses itu, ia melihat banyak wisatawan datang ke Batam, baik transit maupun berwisata di Batam. Namun, Batam belum punya oleh-oleh khas. ”Kota lain punya makanan khas sebagai oleh-oleh. Yogya punya bakpia, Bandung dengan brownies,” ujarnya.

 

jempol

Juli 2007, Deni membuat keputusan, mengubah nama produk dan meminjam uang untuk tambah modal. ”Kami mulai pakai nama Kek Pisang Villa. Saya ambil pinjaman tanpa agunan Rp 40 juta. Sebagian untuk sewa ruko, sisanya untuk beli oven lebih besar, tambah kapasitas produksi,” ujarnya.

Ruko itu berada di bagian depan kompleks tempat Denni tinggal. Lantai satu dijadikan toko dan lantai dua dijadikan pabrik. Di lokasi baru, kapasitas produksi naik jadi 100 kotak per hari. ”Waktu itu, usaha mulai lebih lancar dan kami meningkatkan promosi untuk menjadikan produk sebagai oleh-oleh khas Batam. Pinjaman pertama saya lunasi dalam delapan bulan,” tuturnya.

Namun, usaha Denni tetap ditentang orangtuanya. Ia dan istrinya memang berasal dari keluarga tanpa dasar wirausaha. ”Saya masih disuruh mendaftar ke salah satu BUMN saat omzet sudah Rp 70 juta per bulan. Namun, saya teruskan jadi wirausaha,” katanya.

Tambah kapasitas

Juni 2008, Denni mendapat kredit usaha rakyat Rp 500 juta. Pinjaman tanpa agunan tersebut memungkinkan ia mengembangkan sayap. Ia menambah dua gerai di pusat kota dan satu lagi di kawasan pinggiran. Pabrik dipindahkan dari kawasan Batu Aji ke gerai baru di Batam Center. Pabrik itu memasok produk untuk gerai di Batu Aji, Penuin, Tiban, Nagoya, dan Bandara Hang Nadim.

Produknya makin dikenal dan jadi oleh-oleh utama di Batam. Wisatawan asing dan domestik kerap membawa Kek Pisang Villa sebagai oleh-oleh. Peserta acara-acara di Batam kerap membawa berkardus-kardus Kek Pisang Villa saat meninggalkan Batam.

Terkadang panitia membantu. Kerap pula peserta memburu sendiri di sejumlah gerai CV MKB. Denni juga mengirimkan tim penjual ke lokasi acara. Cara penjualan jemput bola itu dipertahankan sampai sekarang.

 

oleh

Dengan berbagai kombinasi pemasaran dan penjualan itu, sekarang rata-rata terjual 2.500 kotak per hari pada hari biasa. Pada musim liburan, gerai-gerai Denni bisa menjual hingga 3.500 kotak kue per hari. Dengan harga minimal Rp 35.000 per kotak, Denni meraup Rp 87,5 juta per hari dari penjualan kue saja, belum dari penjualan aneka produk UKM mitra CV MKB. ”Sekarang kami tidak beli pisang di pasar. Kami ambil pisang dari Medan, Sumatera Utara. Saya tidak ingat berapa ton per bulan,” tuturnya.

Pundinya tidak hanya terisi dari gerai di Batam. Tahun lalu, Denni melebarkan sayap ke Pekanbaru. Di sana, ia mengolah durian menjadi aneka jenis kue dengan merek Viz Cake. ”Durian bisa didapat kapan saja. Namun, belum ada produk olahan berupa kue durian. Saya masuk di celah itu,” ujarnya.

Dalam setahun, Viz Cake berkembang pesat. Kini, empat gerai dibuka di Pekanbaru dengan penjualan harian rata-rata 500 kotak.

Kini, Denni tidak lagi mengurus sendiri usahanya. Operasi sehari-hari diserahkan kepada profesional. Ia berkonsentrasi pada strategi pengembangan.

Meski sudah sukses, Denni tetap sederhana. Jika ke kantor, ia kerap hanya menggenakan kaus, celana jeans, dan sandal. Sepintas ia tak terlihat sebagai pengusaha muda dengan omzet rata-rata Rp 3 miliar per bulan

By

Kultwit Tukang Bubur

Ditulis ulang dari tweet @AhmadGozali tanggal 11 September 2014.

Mau cerita dikit ah, tentang #TukangBubur di depan rumah. Siapa tau bisa jadi inspirasi yg lagi bingung mau bisnis apa :)

Diantara penghuni kontrakan baru di depan rumah, ada pendatang baru yg berprofesi sebagai #TukangBubur. Awalnya gak konsisten jualan.

 

Kadang jualan, kadang nggak. Kadang gerobaknya gak ada yg berarti si #TukangBubur ini keliling ke tempat lain.

Beberapa minggu stlh tes pasar, si #TukangBubur sdh mulai stabil jualan tiap hari. Di depan kontrakannya, gak keliling lagi.

Rupanya cukup banyak tetangga yg jadi langganannya. Sekali beli bisa 2-5 porsi untuk sekeluarga. #TukangBubur

Yg menarik dari si #TukangBubur ini adlh dia rajin sekali solat berjamaah di mesjid. 5x sehari absen di mesjid tepat waktu.

Saya perhatikan ternyata dia cuma jualan dari jam 6 sampai jam 9 pagi. Selebihnya gak kemana-mana, gerobak #TukangBubur parkir aja.

Jadi seakan-akan hidup utk solat berjamaah di masjid. Dan mengisi waktu luangnya dgn menjadi #TukangBubur dari jam 6 sampai jam 9 pagi.

Kok bisa ya jualan 3 jam sehari aja? Cukup gak ya penghasilannya? Saya blm investigasi, tapi sdh punya sedikit bayangan. #TukangBubur

Dugaan sementara, #TukangBubur menjual 50-100 mangkok dlm waktu 3 jam itu. Dikali harga 8rb, omsetnya jadi 400-800rb/hari.

Krn dia tdk sewa tempat lagi utk jualan, #TukangBubur ini bisa ambil untung 50% dari omsetnya yaitu 200-400rb/hari.

200-400rb x 30 hari jadi 6-12jt/bln. Iya 30 hari sebulan, sabtu-minggu pun si #TukangBubur tetap jualan.

Dibandingkan dgn buruh pabrik yg kerja 8 jam x 6 hari seminggu, bawa pulang gaji 2jt. Penghasilan #TukangBubur jelas lbh besar.

Krn masaknya sblm subuh, dia bisa bangun utk tahajud juga. Subuh berjamaah gak pernah lewat, selesai jualan jam 9 bisa dhuha. #TukangBubur

Jadi emang gak aneh kalau ada #TukangBubur Naik Haji. Penghasilannya lumayan & punya banyak waktu utk ibadah, jalannya jadi mudah.

Tapi ibadah mmg bkn masalah punya waktu atau nggak sih. Tapi masalah punya kesungguhan atau nggak. Kita juga bisa spti #TukangBubur.

Kita juga harusnya malu sama #TukangBubur kalau kesibukan kita melenakan waktu solat, demi penghasilan yg gak seberapa dibanding dia.

Kerja berangkat jam 6 pagi pulang jam 9 malem, solat sering kelewat, tahajud msh ngantuk, dhuha terlalu sibuk. Malu aja sama #TukangBubur :(